Oleh: Fauzi As
Setelah tulisan saya sebelumnya menuai kontroversi, saya mulai sadar bahwa mungkin saya memang salah.
Mungkin saya terlalu tua untuk memahami perkembangan zaman.
Mungkin saya terlalu sering mendengar petuah orang tua yang menganggap mabuk bukan prestasi, dugem bukan cita-cita, dan menjaga pergaulan bukan sesuatu yang memalukan.
Hari ini saya ingin mengoreksi diri.
Sebab ternyata banyak yang menjelaskan dengan komentar di Tiktok saya, bahwa tempat seperti MR Ball justru harus didukung. Jangan ikut urusan orang, dan sebagainya.
Kalau begitu, mari kita dukung secara total.!
Jangan setengah-setengah.
Kalau hari ini pemerintah hanya diam dan membiarkan, maka mulai besok mari kita minta pemerintah lebih serius.
Jangan hanya memberi izin.
Mari anggarkan.
Kalau perlu dalam APBD tahun depan dibuat program khusus:
“Peningkatan Daya Saing Hiburan Malam Daerah.”
Toh selama ini kita selalu bicara pembangunan.
Mengapa pembangunan hanya berhenti pada jalan, jembatan, sekolah, pesantren, dan irigasi?
Bukankah panggung DJ juga bagian dari pembangunan yang dicontohkan Bupati?
Bukankah lampu strobo warna-warni juga simbol kemajuan?
Bukankah dentuman bass ribuan watt juga bisa dianggap sebagai indikator pertumbuhan ekonomi?
Kalau perlu kita buat MR Ball yang lebih megah.
Lebih besar.
Lebih modern.
Lebih ramai.
Dan tentu saja dibiayai dari APBD.
Supaya masyarakat benar-benar merasakan kehadiran negara.
Sebab kalau stadion bisa dibangun negara, kenapa panggung dugem tidak?
Kalau taman kota bisa dibiayai negara, kenapa lantai dansa tidak?
Kalau sektor pariwisata mendapat anggaran, mengapa hiburan malam tidak kita jadikan ikon resmi daerah?
Bahkan malam ini saya mengusulkan agar Dinas Pariwisata mulai menyusun paket wisata baru.
Bukan lagi wisata religi.
Bukan lagi wisata budaya.
Tetapi wisata malam berbasis dentuman musik dan lampu kelap-kelip.
Kalau perlu slogan baru daerah dibuat lebih jujur.
Bukan lagi Kota Keris, Bukan lagi Kota Santri.
Tetapi Kota yang Tidak Pernah Tidur.
Karena tampaknya identitas lama sudah dianggap kurang menarik.
Lalu saya membayangkan masa depan Sumenep.
Di sekolah-sekolah, anak-anak tidak lagi ditanya:
“Sudah hafal berapa surat?”
Tetapi:
“Sudah hafal berapa lagu remix?”
Tidak lagi ditanya:
“Cita-citamu ingin jadi apa?”
Tetapi:
“Klub malam favoritmu yang sebelah mana?”
Dan mungkin suatu saat nanti para orang tua tidak perlu lagi pusing mencari pesantren terbaik.
Cukup mencari tempat hiburan terbaik.
Karena zaman sudah berubah.
Konon begitu.
Saya juga membayangkan para kiai yang selama puluhan tahun mengajar di surau-surau kecil.
Menghabiskan usia mereka untuk membimbing masyarakat.
Mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an.
Membangunkan umat untuk salat Subuh.
Menanamkan rasa malu, adab, dan kehormatan.
Ternyata para pengasuh pesantren itu kalah bersaing dengan pengusaha hiburan malam dan lampu disko.
Kalah bersaing dengan musik yang lebih keras.
Kalah bersaing dengan hiburan yang menawarkan kesenangan instan.
Betapa berat rasanya menjadi kiai di zaman seperti ini.
Sebab yang mereka tanam bertahun-tahun bisa dicabut hanya dalam beberapa malam.
Dan yang lebih menyedihkan adalah para orang tua. Mereka bekerja dari pagi hingga petang.
Ada yang ke sawah.
Ada yang melaut.
Ada yang berjualan di pasar.
Mereka menahan panas, menahan lapar, dan menahan lelah agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik daripada mereka.
Tetapi ketika malam tiba, sebagian hasil keringat itu mungkin berubah menjadi tiket hiburan, minuman, atau kesenangan sesaat yang habis sebelum matahari terbit.
Lalu seorang ayah duduk di teras rumah.
Menunggu anaknya pulang.
Jam sepuluh malam belum pulang.
Jam dua belas malam belum pulang.
Jam dua pagi belum pulang.
Sampai akhirnya adzan Subuh berkumandang.
Dan ayah itu masih terjaga.
Bukan karena sedang beribadah.
Tetapi karena sedang cemas.
Mungkin itulah yang tidak pernah masuk dalam laporan pertumbuhan ekonomi.
Air mata seorang ayah tidak pernah tercatat dalam statistik.
Kecemasan seorang ibu tidak pernah masuk dalam laporan pembangunan.
Dan rasa malu seorang keluarga ketika anaknya terseret pergaulan buruk juga tidak pernah muncul dalam dokumen APBD.
Padahal di situlah sesungguhnya harga yang harus dibayar.
Sebuah daerah tidak pernah hancur karena kekurangan gedung.
Tidak pernah runtuh karena kekurangan lampu.
Tidak pernah gagal karena kekurangan tempat hiburan.
Sebuah daerah runtuh ketika generasinya kehilangan arah.
Ketika mengingatkan dianggap gangguan.
Ketika adab dianggap kuno.
Ketika agama dianggap penghalang kesenangan.
Dan ketika para tokoh memilih diam karena takut, bahkan takut dianggap tidak modern.
Karena itulah, jika memang semua ini dianggap baik, mari kita dukung sekalian.
Mari kita bangun MR Ball yang lebih besar.
Lebih megah.
Lebih meriah.
Kalau perlu lebih megah daripada pesantren.
Lebih ramai daripada masjid.
Lebih terkenal daripada sekolah.
Agar kelak, ketika kita bertanya mengapa narkoba semakin dekat dengan anak-anak kita, mengapa keluarga semakin rapuh, mengapa moral semakin murah, dan mengapa generasi muda semakin kehilangan pegangan hidup, kita tidak perlu bingung mencari penyebabnya.
Kita cukup melihat ke belakang.
Mungkin semuanya bermula ketika masyarakat mulai takut disebut kolot.
Dan lebih takut kehilangan hiburan daripada kehilangan generasinya sendiri.
Itulah saat sebuah daerah sebenarnya sedang kalah.
Bukan kalah oleh peringkat kemiskinan.
Bukan kalah oleh keterbelakangan.
Tetapi kalah karena perlahan-lahan kehilangan keberanian untuk menjaga anak-anaknya sendiri.
















