suaramadura.id/ – Bagusnya kualitas tembakau Madura saat musim panen tahun ini ternyata tidak membuat pabrikan rokok besar seperti Sampoerna dan Gudang Garam tertarik untuk segera melakukan pembelian.
Beberapa faktor pendukung seperti curah hujan yang pas pada fase awal tanam akan ikut menentukan bagus atau tidaknya kualitas daun dewa yang dihasilkan. Begitu juga dengan tembakau Madura tahun ini yang mendapatkan terik matahari yang cukup.
Dukungan cuaca dalam proses tanam hingga pengeringan membuat para petani tembakau Madura sumringah dan berangan-angan seluruh hasil kerja kerasnya terbayar tuntas dengan dibeli mahal oleh pabrikan rokok baik lokal maupun skala besar.
Tetapi, belum dibukanya pembelian tembakau Madura oleh Sampoerna dan Gudang Garam pada awal musim panen, dikeluhkan para petani. Sebab, secara otomatis penyerapannya kini hanya bergantung pada tokoh lokal dan gudang independen.
Belum bergeraknya Sampoerna, Gudang Garam dan sejumlah pabrikan rokok besar lain untuk membeli tembakau Madura di tahun ini kemudian dilihat sebagai sebuah anomali, mengacu kepada bagusnya kualitas yang dihasilkan.
Kabar burung pun menyeruak di tengah masyarakat mengenai kebijakan yang dilakukan Sampoerna dan Gudang Garam berama pabrik rokok raksasa lain untuk tidak membeli tembakau Madura seolah telah direncanakan.
“Tujuannya apa, yakni mereka dapat membeli tembakau Madura yang kualitasnya bagus di tahun ini dengan harga semurah mungkin. Kalkulasinya juga pasti sudah matang, mengingat kemampuan tokoh atau pengusaha lokal untuk membeli juga terbatas,” ujar Hasyim Kafani. Rabu (26/08/26).
Collection Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja!
News AS Umumkan Kasus Pertama Varian Omicron: Gejala Ringan, Sudah Terima 2 Dosis
Entertainment Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina
Daerah Diduga Terima Sejuta, Polsek Sapudi Lepas Motor STNK-an Gres yang Sebelumnya Ditahan
News Polisi Tangkap 2 Pelaku yang Coba Bobol Mesin ATM di Nanga Mahap, Kalbar
Aktivis dan pemerhati kebijakan publik sekaligus Ketua Jaringan Strategi Pemuda (JASTRA) tersebut melanjutkan, bahwa dengan luas lahan tanam sekitar 45.ribu hektare total produksi panen tembakau di Pulau Madura mencapai 60 ribu ton per tahun.
Sedangkan kemampuan tokoh lokal dan gudang independen dalam menyerap hasil panen petani tembakau Madura hanya berada di kisaran ribuan ton saja. “Jadi pabrikan besar masih dapat dengan leluasa memainkan harga pasar dan menjatuhkan harga belinya,” tuding Hasyim.
“Menurut informasi yang saya dapat, tokoh lokal sekelas Haji Mukmin saja hanya mampu menyerap pembelian tembakau Madura tahun ini di angka 1.000 ton. Itu pun beliau sudah menggandeng banyak kekuatan,” ungkapnya.
Diketahui, pada musim panen tahun ini Haji Mukmin mematok harga beli tembakau Madura yang cukup tinggi yakni Rp 72 ribu per kilogram dengan batas bawah Rp 50 ribu. Sedangkan PT Bawang Mas Group milik Sultan Madura Haji Her, memberi batas maksimal pembelian sedikit lebih tinggi, Rp 75 ribu per kilogram.
Terakhir, Hasyim Kafani meminta kepada pabrikan besar untuk segera membuka gudang dan melakukan pembelian terhadap hasil panen petani tembakau Madura tahun ini dengan harga yang baik dan pantas sesuai kualitasnya.
Sementara pihak Sampoerna dan PT Gudang Garam belum memberikan keterangan resmi terkait belum dimulainya aktivitas pembelian tembakau Madura di musim panen kali ini.











Komentar