suaramadura.id/ – Mr Ball, sebuah tempat hiburan malam yang berkedok arena permainan billiard terus menuai polemik dan seolah menantang masyarakat Sumenep yang dikenal agamis.
Sebagai sebuah tempat hiburan malam, Mr Ball Sumenep memang cukup sakti. Kantongi ijin berupa cafe dan resto, tentu berbanding terbalik dengan fakta yang ditemui setiap malamnya di lapangan.
Diiringi dentuman musik dari disc jockey yang mulai menggema pada jam sebelas malam, Mr Ball Sumenep menjelma menjadi arena maksiat yang suguhkan minuman alkohol mulai dari yang ringan sampai ke kelas berat.
Sebuah janji yang pernah dilontarkan Robin, owner Mr Ball di hadapan kepala daerah Sumenep untuk membatasi jam operasionalnya hingga jam sebelas malam, nampaknya hanya bualan semata,
Faktanya, di jam sebelas malam lah Mr Ball baru mulai menggeliat. Diisi penampilan residence DJ di malam biasa, sejumlah joki cakram dari luar kota disiapkan pada malam Sabtu dan Minggu
Tak jarang pula DJ tamu yang perform di Mr Ball Sumenep, mengenakan busana yang erotis bahkan cenderung seronok saat menampilkan kelihaiannya menghipnotis pengunjung yang acapkali adalah bocil-bocil.
Ya betul, anak di bawah umur kerap terlihat lebih mendominasi para pengunjung Mr Ball Sumenep yang lintas profesi. Tempat dugem yang sajikan miras tanpa cemas ada razia dari Ormas.
Salah satu tokoh masyarakat berinisial AS, sempat bercerita mengenai dampak buruk keberadaan Mr Ball Sumenep terhadap perilaku dan pola pikir generasi emas Kota Keris.
Internasional Ansor Jawa Timur Menilai Gagalnya Penyelundupan Narkotika di Juanda adalah Kemenangan Negara
Daerah Modus Potong Kabel Kontak, Pelaku Curat Diciduk Satreskrim Polres Sampang
Entertainment Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul
Entertainment Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph
Collection Geger Kolor Ijo Probolinggo
“Di daerah Kecamatan Rubaru, ada seorang pelajar yang menggadaikan sepeda motor tetangganya. Ketika ditanya untuk apa uangnya, si anak menjawab buat ke Mr Ball,” ungkap AS, di kediamannya pada awal Agustus kemarin.
Lain lagi keterangan yang diberikan Hadi, pemuda asal Kota Sumenep. Ia mengatakan, seringkali DJ yang mengisi di Mr Ball juga melakukan siaran langsung alias live di media sosial miliknya.
“Ketika DJ yang tampil mengenakan busana yang minim dan melakukan live di TikTok atau Instagram, maka seolah tidak menghargai masyarakat Sumenep fan terkesan menantang para alim ulama,” ujarnya. Selasa (18/08/26).
Belakangan, diperoleh informasi bahwa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, mulai memberikan sedikit reaksi dengan memberikan himbauan secara lisan kepada pemilik ataupun pengelola Mr Ball agar menutup tempatnya sebelum tengah malam.
Jika hal tersebut tidak diindahkan, maka PCNU Sumenep akan mengambil langkah lanjutan yang dianggap perlu dan penting kepada Mr Ball. Opsi sweeping hingga menutup paksa disebut sempat menjadi pilihan.
Dikabarkan, langkah yang diambil PCNU Sumenep tersebut merupakan puncak dari kegerahan jajaran pengurus utama terhadap Mr Ball dengan segala image dan pengaruh buruk yang diberikan pada Kota Keris.
Sebagai organisasi keagamaan terbesar, tentunya kepastian langkah tegas PCNU Sumenep, sangat dinanti masyarakat yang jenuh dengan aparat dan pemerintah daerah yang seolah pura-pura bisu dan tuli atas keberadaan Mr Ball.











Komentar