SuaraMadura.id – Imbas tragedi yang menimpa driver ojek online, Affan. Ketidakpercayaan terhadap institusi Polri meluas di berbagai daerah termasuk Sumenep, dengan satu tuntutan. Mundurnya Kapolri.
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sumenep (AMS) tak ketinggalan ikut melakukan aksi demonstrasi di depan Markas Kepolisian Resort Sumenep. Sabtu (30/08).
Menurut AMS, Ikut turun ke jalannya mereka, untuk membuktikan kondisi Indonesia yang sedang tak baik. Entah itu parlemen maupun aparat penegak hukum yang sedang berada pada situasi mengenaskan.
“Harusnya saat bulan kemerdekaan kami sedang bernyanyi tentang kemerdekaan tapi aparat negara menunjukkan caranya menjajah yang apik dan sempurna. Rakyat hari ini sudah muak dengan drama aparat negara dan parlemen,” teriak peserta aksi.
AMS menilai tragedi tanggal 28 Agustus kemarin merupakan pengulangan kembali represi Polri terhadap masyarakat sipil yang sedang memperjuangkan haknya dan berbicara tentang keadilan.
“Meninggalnya saudara kami yang dilindas oleh anggota Polri menggunakan Barakuda adalah proses terstruktur pembunuhan yang terencana, karena kami yakin anggota Polri yang bertugas tidak dalam kondisi mabuk dan tidak dalam pengaruh alkohol,” tegas massa aksi AMS.
Selain menagih pengusutan tuntas dan berkeadilan atas kematian Affan. AMS juga menuntut Kapolri sebagai pucuk pimpinan tertinggi kepolisian, diminta harus bertanggung jawab dengan mundur dari jabatannya. “Kami datang untuk menagih kematian saudara kami. Maaf saja tak cukup,” tandasnya.

















