Pemerintahan

Pagar Rubuh Kantor Pemkab Sumenep Dibiarkan, Aktivis: Jangan Buat Malu Bupati

419
×

Pagar Rubuh Kantor Pemkab Sumenep Dibiarkan, Aktivis: Jangan Buat Malu Bupati

Sebarkan artikel ini
Pagar Rubuh Kantor Pemkab Sumenep Dibiarkan, Aktivis: Jangan Buat Malu Bupati
Ainur Rahman bersama Bupati Achmad Fauzi dengan latar belakang pagar rubuh kantor Pemkab Sumenep. Foto/Istimewa

SuaraMadura.id – Robohan pagar kantor Pemkab Sumenep yang dibiarkan begitu saja, membuat salah satu aktivis meminta agar para pejabat jangan membuat malu Bupati Achmad Fauzi.

Robohnya pagar kantor Pemkab Sumenep, imbas aksi demontrasi mahasiswa PMII mengenai kegagalan bupati dan wakil bupati mengatasi kemiskinan pada Jumat, 14 Juli 2023.

Klik Gambar Untuk Reservasi
Menu Paket Ikan Dorang

Setelah tidak ditemui, bupati maupun wakil bupati. Akhirnya, mahasiswa merobohkan pagar gerbang sisi barat halaman Kantor Pemkab Sumenep dan merangsek masuk.

Namun hingga Senin, 17 Juli 2023 siang, robohan pagar kantor Pemkab Sumenep terlihat masih dibiarkan teronggok begitu saja tanpa adanya perbaikan.

Kasubag Rumah Tangga Pemkab Sumenep, Kholid ketika dikonfirmasi mengaku bahwa pagar rubuh tersebut memang sengaja dibiarkan atas petunjuk.

“Petunjuknya suruh dibiarkan dulu jangan diperbaiki dulu,” kata Kholid. “Menyampaikan aspirasi tapi merusak begitu. Sudah seringkali pagar itu rubuh,” sambungnya. Jumat (16/7/23).

Ketika ditanya lebih jauh mengenai siapa yang memberi petunjuk untuk membiarkan pagar kantor Pemkab Sumenep yang rubuh, ia mengatakan bahwa tidak menerima perintah langsung.

“Petunjuknya bukan ke saya tapi saya dengar dari Kabag saya, petunjuknya Pak Sekda jangan diperbaiki dulu biar tahu karena itu sudah dirusak berkali-kali,” kata Kholid.

Pria yang hobi bermain biliar itu juga menerangkan bahwasanya tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk memperbaiki pagar yang kerap rubuh akibat aksi-aksi sebelumnya.

Menanggapi hal tersebut, salah satu aktivis Kota Keris yakni Ainur Rahman menyampaikan, dibiarkannya pagar kantor yang rubuh itu membuat dirinya malu sebagai masyarakat Sumenep.

“Terus terang hal tersebut menjadi citra buruk Pemkab Sumenep terhadap orang luar yang datang berkunjung dan saya juga ikut malu sebagai masyarakat. Tolong lah jangan mempermalukan bupati,” katanya.

Jika memang anggaran yang dijadikan alasan pagar rubuh Pemkab Sumenep tidak kunjung diperbaiki, dengan tegas pria berjanggut itu mengaku siap memberikan pinjaman.

“Berapa sih anggaran yang dibutuhkan untuk memperbaiki pagar rubuh itu, apa gak bisa para pejabat sumbangan? Kalau memang kesulitan saya siap berikan pinjaman,” sindirnya.