Kemudian ia melanjutkan, pemutusan kontrak kerjasama De Baghraf Hotel Sumenep jelas berdampak adanya pinalti yang harus dibayarkan kepada Amithya.
“Ya sudah barang tentu ada pinalti karena penghentian kerjasama dilakukan sebelum rentang waktu yang disepakati berakhir, yaitu 5 tahun,” ujar dia.
Ketika ditanya, apakah berakhirnya era manajemen Amithya di De Baghraf Hotel Sumenep membuat penurunan kualitas pelayanan yang diberikan, ia menolak berkomentar pasti.
De Baghraf Hotel Sumenep sempat menjadi buah bibir masyarakat Kota Keris setelah video viral Nikita Mirzani keluhkan pelayanannya, walaupun dia telah membuat video klarifikasi atas statement-nya itu.
Baca Juga: Nikita Mirzani Menilai De Baghraf Hotel Sumenep Tidak Bagus, Pariwisata Perlu Diperhatikan
“Padahal kami, melalui Institut Amithya telah bekerjasama dengan Pemkab Sumenep, mengadakan pelatihan perhotelan yang bertujuan menyiapkan putra daerah menjadi tenaga terdidik di bidang perhotelan,” sambungnya.
Ia pun tidak dapat memastikan kelanjutan hasil kerjasama pelatihan perhotelan Institut Amithya dengan Pemkab Sumenep. “Karena manajemen De Baghraf Hotel Sumenep bukan kami lagi,” sergahnya.
General Manager De Baghraf Hotel Sumenep, Rahmat Surya Karna yang dihubungi mengatakan, tidak tahu menahu terkait berakhirnya kerjasama dengan Amithya.
“Saya tidak tahu mengenai hal itu Mas,” kata Rahmat. Karena dirinya berada di bawah PT Persada Investama Karya Utama, bukan Amithya. Selanjutnya ia menyarankan agar konfirmasi langsung ke Direktur Utama De Baghraf Hotel Sumenep.
Tetapi kami masih kesulitan untuk dapat menghubungi Hilmy Gauzan. Upaya untuk mendapatkan kontak yang bersangkutan juga belum membuahkan hasil.
Penelusuran SuaraMadura.id di salah satu aplikasi pemesanan hotel online memang menunjukkan sejumlah review kurang baik dari pengunjung De Baghraf Hotel Sumenep pasca hengkangnya Amithya.
Happy F.P. asal Solo yang menginap bersama keluarga di De Baghraf Hotel Sumenep pada 13 Maret 2022 memberikan ulasan negatif tentang pengalamannya saat bermalam.
“Not satisfied because. (1) Service is lacking, receptionist and restaurant employees are not friendly. (2) Atmosphere of Hotel Batiga. Dark room lights, lack of lighting. The lights in the hallway are also dark, so scared. (3) clogged toilet drains, stagnant water. Should be fixed. (4) the food in the restaurant is little, eat porridge but it’s cold. Should be repaired again,” tulisnya.
(Tidak puas karena. (1) Pelayanan kurang, resepsionis dan pegawai resto kurang ramah. (2) Suasana Hotel Batiga. Lampu kamar gelap, penerangan kurang. Lampu di lorong juga gelap, jadi takut. (3) saluran air toilet tersumbat, air tergenang. Harus diperbaiki. (4) makanan di restoran sedikit, makan bubur tapi dingin. Harus diperbaiki lagi).
Baca Juga: Satpol PP Tebang Pilih, Kota Keris Bertambah Kumuh
Sementara, Leo I.T. tamu lainnya yang bermalam di De Baghraf Hotel Sumenep pada 26 Februari 2022 komplain tentang pendingin kamar yang tidak berfungsi.
“The air conditioner is hot even though it is set to 18° max wind. The sink was leaking, the room next to the sink was dead-end (AC panas padahal sudah diatur angin max 18°. Wastafel bocor, kamar sebelah wastafel buntu).” Bebernya.
Tentunya akan berbeda pelayanan yang disuguhkan oleh manajemen yang terbiasa bergelut di dunia perhotelan, dengan servis dari manajemen hasil copy paste.

