Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

Ambulance Laut RSTKA, Bantuan Kemanusiaan Atau Bisnis Sampingan?

453
×

Ambulance Laut RSTKA, Bantuan Kemanusiaan Atau Bisnis Sampingan?

Sebarkan artikel ini
Ambulance Laut RSTKA, Bantuan Kemanusiaan Atau Bisnis Sampingan?
Salah satu anggota DPRD Sumenep, Suharinomo nampak melambaikan tangannya saat akan meninggalkan Pulau Sapeken, Sumenep, Madura, menggunakan ambulance laut RSTKA.

SuaraMadura.id – Ketika bantuan ambulance laut yang diberikan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) bagi masyarakat Kepulauan Sapeken, Sumenep, Madura, dipertanyakan maksud dan tujuan sebenarnya.

Diketahui serah terima bantuan ambulance laut oleh dr. Agus dari RSTKA kepada salah satu warga Kepulauan Sapeken, berinisial WW sebagai pengelolanya telah berlangsung pada Kamis, 29 September 2022 kemarin.

Scroll Keatas Untuk Melanjutkan.
Hub Kami Untuk Kerjasama .

Kehadiran ambulance laut berbentuk speed boat bermesin ganda dengan bahan bakar bensin tersebut tentunya diharapkan akan membantu ketika merujuk pasien asal Kepulauan Sapeken ke rumah sakit.

Meskipun pihak Pemdes Sapeken telah memiliki kapal siaga sebelumnya, faktor kecepatan mencapai lokasi menjadi nilai tambah ambulance laut RSTKA ketika digunakan pada kondisi laut yang tenang.

Namun pengelolaan ambulance laut RSTKA yang dipercayakan kepada perorangan mendapat kekhawatiran dari masyarakat. Apakah tidak lebih baik diserahkan ke lembaga atau instansi resmi milik pemerintah?

Mengingat manajemen pengelolaan pribadi tentu akan sangat berbeda dengan yang terorganisir. Faktor penyalahgunaan acapkali menjadi batu sandungan bagi bantuan yang dikelola oleh orang perorang.

Apa yang dikhawatirkan mulai terlihat ketika salah satu anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Suharinomo yang turun ke bawah  alias Turba ke Sapeken terpantau diantar jemput menggunakan ambulance laut RSTKA.

“Suharinomo kemarin dijemput ke Pagerungan Besar hari kamis tanggal 6 dan diantar lagi ke Pagerungan Besar hari Jum’at tanggal 7 Oktober,” beber narasumber yang merupakan warga asli Kepulauan Sapeken, Sabtu (8/9).

Masih menurut narasumber, penggunaan ambulance laut oleh Suharinomo cs ialah dengan sistem sewa. Diantar jemput sebanyak dua kali, anggota dewan yang terlihat rajin menjelang pesta politik itu harus merogoh kocek sebesar empat juta rupiah.

Sehari berselang mengantar Suharinomo kembali ke Pagerungan Besar, ambulance laut RSTKA harus mengarungi laut lepas lagi. Tetapi kali ini dalam rangka kemanusiaan yang sesuai dengan namanya, AMBULANCE.

Berkelir putih bertuliskan Sea Ambulance warna merah dan Radja Lela berwarna hitam di kedua sisinya, bertolak ke Kalianget, Sumenep guna menjemput jenazah warga Sapeken dengan tarif sepuluh juta rupiah.

Setelah sebelumnya ambulance laut RSTKA digunakan selain untuk keperluan kemanusiaan. Menurut pengamat kebijakan publik Sumenep Fery Saputra. “Ini sebenarnya mau berbisnis atau memang mau betul-betul membantu masyarakat kepulauan?” Ketusnya.

“Kalau memang itu benar ada yang dermawan menghibahkan ambulance laut untuk kemanusiaan, lalu kenapa ambulance laut itu pengelolaanya diserahkan ke perorangan dan kabarnya bahkan kebutuhan personal selain emergency pun bisa menyewa,” tanya Fery.

Fery menambahkan, “seperti kejadian kemarin ada pejabat partai yang bisa menyewa ambulance laut tersebut untuk tranportasinya. Dan lucunya, harganya bisa jauh lebih murah dari tarif kemanusiaan,” sergahnya.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan didapati bahwa ambulance laut RSTKA merupakan bantuan dari seorang donatur bernama Amir. Hingga kini pihak-pihak yang berkepentingan masih belum dapat dihubungi untuk dimintai tanggapannya.

Akal-akalan Dinkes Sumenep
Kesehatan

SuaraMadura.id – Dinkes Sumenep dinilai melakukan akal-akalan untuk asisten apoteker Puskesmas Gayam yang baru tiga tahun jadi PNS agar bisa…